Senin, 27 Juni 2011

cerpen. Peri Kecil

” Okay, kita break dulu 15 menit, nanti kita lanjutkan lagi!” kata dosen melegakan hati kami, para mahasiswanya yang sedari tadi merasakan penat yang sangat dalam mengikuti perkuliahan hari ini.
” Oh yes... huuuuaah” kataku dengan temanku. Aku yang sudah merasa ngantuk dan penat dari tadi langsung menarik nafas panjang dan berusaha untuk mengendorkan otot-ototku yang sudah kaku akibat keseriusanku mengikuti mata kuliah hari ini.
Selagi aku berusaha untuk mengendorkan otot-ototku yang kaku, secara tidak sengaja aku menoleh ke arah samping, dan dari arah itu kudapati sebuah tatapan mata yang penuh dengan sejuta makna menuju ke arahku, dan ternyata ouh... pemilik mata itu menatapku. Jantungku pun berdegup kencang. Tuhan ada apa dengan hatiku ini? terang saja dengan kejadian itu aku menjadi salah tingkah, kemudian dengan bergaya seolah olah tidak terjadi apa-apa, aku mengalihkan pandanganku darinya. Karena kulihat dia pun juga ikut salah tingkah ketika tatapan mata ini bertubrukan dengan tatapan matanya.
Tatapan mata jerry mengingatkanku akan sebuah mata yang indah dan tajam milik Dika. Dika cinta monyet sekaligus cinta pertamaku, tapi sekarang aku tak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Yang ku tahu adalah sekarang dia sedang marah padaku dan aku tak berani untuk menghubunginya lagi. Hal itu yang membuat aku salah tingkah ketika tatapan mata jerry tertuju padaku. Jerry dan Dika merupakan manusia yang memiliki body and face yang sama serta karakter yang sama pula. Suatu hal yang menyiksa batinku ketika aku harus berhadapan dengan Jerry teman sekelasku yang mana kita sering ketemu ketika kuliah.
***
” Widya,”suara Tina menghancurkan lamunanku.
” Hayoo, sedang ngelamunin siapa nih ?” lanjutnya.
” Siapa ? Enggak kok,” jawabku mengelak.
” Jerry yah ?” kata tina mengagetkanku
” What?”
” Udah deh nggak usah mengelak! Aku tahu kok apa yang kamu rasain. Dari tatapan mata kamu aja udah bisa mengisyaratkan kalau kamu tuh ada feeling dengan dia. Tapi wajar juga kok, Jerry kan emang cakep, manis dan keren lagi,” kata Tina berdeklamasi.
” Oh ya? Orang super jaim gitu dibilang keren, gayanya aja yang sok cool. Image buruk kok dijaga. Malas banget tau nggak sih?”
” Uuh... ck ck ck ck ck, ternyata diem-diem kamu perhatian juga ya sama dia?”
” Oh no... perhatian apanya? Orang hal itu udah rahasia umum kok,” kataku membela diri. Padahal di dalam hatiku membenarkan apa yang dikatakan Tina, tetapi sepertinya Tina bisa membaca isi hatiku. Karena memang Tina adalah teman kuliah yang paling dekat denganku.
***

Malam ini pikiranku kacau, tugas-tugas kuliah masih menumpuk diatas meja belajarku, belum sempat aku sentuh untuk kuselesaikan. Aku pusing, dipikiranku hanya ada Dika, Dika dan Dika. Walau kadang aku juga tidak tahu apakah yang dipikiranku adalah Dika atau Jerry. Jujur saja, sosok jerry dapat membuatku bersemangat untuk pergi ke kampus, tetapi di sisi lain sosok Jerry juga membuatku terluka jika ingat Dika. Aku tak tahu, dengan siapa aku harus menceritakan isi hatiku. Hanya lembar-lembar kertas putih yang selalu siap aku coret-coret untuk melukiskan perasaanku, seperti yang terjadi malam ini. Lembar kosong di dalam binderku menarik tanganku untuk melukiskan sebuah kalimat yang menggambarkan isi hatiku.
” Peri kecil tak tau kemana ia harus mengepakkan sayap indahnya. Mahkota bunga yang ia impikan kini tlah menguncup. Peri kecil hanya mampu menunggu kapan bunga itu mekar pada musim semi di kemarau panjang ini. ”
***
Siang itu seusai kuliah Tina mengajakku untuk pergi ke toko buku. Sesampai disana kami asik mencari buku-buku yang bagus, walaupun tidak semuanya akan kami beli. Setelah kami mendapatkan buku yang akan kami beli, kami langsung pergi ke kasir untuk membayarnya. Dan tidak disangka kami disana bertemu dengan Jerry. Jujur aku kaget.
” lhoh...kalian? kok ada disini juga?” sapa Jerry
” Iya nih,” jawab kami sambil tersenyum.
” eh... oh iya, gimana dengan kuliahnya tadi?”
” Yah kayak biasanya lah,lalu kenapa kamu tadi nggak masuk?” jawab Tina, aku hanya bisa bungkam saja.
” Aku tadi bangun kesiangan, jadi daripada datang terlambat terus nggak diperbolehin ikut kuliah, mending aku sekalian nggak usah berangkat aja, oh iya boleh aku pinjam catatanmu nggak?”
” Kalau catatan, kamu pinjam aja sama Widya, tulisannya kan rapi, beda sama aku. Kalau tulisanku sih hancur banget, lebih hancur daripada tulisan resep dokter, takutnya ntar kamu terus periksa mata ke dokter mata setelah baca tulisanku, he he he,”
” Ah Tina bisa aja nih, ya udah kalau gitu, Widya boleh aku pinjam catatanmu?”
” Eh... oh iya, sebentar,” jawabku kaget sambil mengeluarkan binder dari dalam tasku lalu menyerahkannya pada Jerry.
” Terimakasih,” kata Jerry sambil memberikan senyuman manisnya yang membuat semua gadis disana terpana melihatnya.
***
Angin semilir berhembus menggerakkan daun-daunan di pohon taman kampus. Udara sejuk pun kuhirup sambil duduk di kursi taman kampus. Aku termenung seorang diri, kebetulan hari ini ada dosen yang tidak bisa mengajar karena sedang ada urusan lain yang lebih penting. Tiba-tiba lamunanku dipecahkan oleh sebuah suara yang tidak asing bagiku dan suara yang aku tunggu-tunggu.
” Peri kecil, bolehkah aku duduk disampingmu?” sapa Jerry yang membuat aku kaget.
” Boleh, silahkan saja!” jawabku.
” Kok sendirian saja?”
” Lebih enak kalau sendiri aja kok,”
”Jadi..., aku mengganggu kamu dong jika aku duduk disini bersamamu?”
” Oh nggak apa-apa kok,”
” Maaf bukan maksud aku untuk membuatmu nggak enak,” kata Jerry meminta maaf.
” Udah lah, aku kan udah bilang nggak apa-apa” jelasku.
” Terus seandainya aku disini untuk menjadi hujan agar kemarau panjang segera berakhir dan bunga pun akan bermekaran sehingga peri kecil bisa menemukan mahkota bunganya gimana? Apakah masih nggak apa-apa?”
” Maksudmu?” tanyaku kaget.
” Kalau aku menjadi mahkota bunga yang diimpikan peri kecil, apakah juga nggak apa-apa?”
” Kok kamu bisa ngomong kayak gitu?”
” Wid, ketika aku pinjam catatanmu, nggak sengaja aku membaca tulisan hatimu di bindermu. Aku tahu dan aku ingin menjadi mahkota bunga yang kau impikan sehingga kamu bisa mengepakkan sayap indahmu, karena sesungguhnya aku sudah merasakan suatu feeling padamu dari dulu dan aku yakin itu adalah cinta,” jelas Jerry. Aku terdiam dan aku kaget dengan apa yang dikatakan Jerry baru saja.
” Wid....”
” Aduh gimana ya Jer, jujur aku kaget banget dengan pernyataanmu barusan,”
” Terus gimana? Apakah aku bisa menjadi mahkota bunga itu?”
” Sebelumnya aku minta maaf, aku nggak bisa menjawabnya. Aku nggak tahu aku harus jawab apa”
” Bukannya aku adalah sosok Dika di hatimu?”
” Lhoh, kok kamu tahu?” tanyaku kaget.
” Maaf Wid, selama ini aku banyak mencari informasi tentangmu, dan maaf aku udah lancang ”
” Okay Jerry, apakah kamu ingin jawabanku sekarang?”
” Iya....”
” Tapi sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya dulu padamu. Seandainya kamu menjadi mahkota bunga, mahkota bunga apa itu?”
” Aku akan menjadi mahkota bunga mawar merah yang indah buatmu”
” Kalau begitu aku minta maaf, yang aku inginkan adalah mahkota bunga mawar putih. Dan yang bisa menjadi mahkota bunga mawar putih adalah Dika”
” Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu ingin mawar putih?”
”Jerry, masalahnya bukan pada mawar merah atau putih, tapi memang karena dihatiku Cuma ada Dika. Maaf Jer, aku berkata begini bukan karena kamu lebih buruk daripada Dika. Kalian sama, sama-sama bunga mawar, bunga yang penuh dengan keindahan dan aroma yang wangi. Walaupun wajah kalian mirip tapi aku tetap tidak bisa memilihmu menjadi mahkota bungaku,”
” Lalu?”
” Ya... aku ingin kita berteman saja, karena kupikir itulah yang terbaik buat kita. Aku akan selalu ada buatmu sebagai teman, okay?”
” Terserahlah kalau itu maumu,”
” Makasih Jerry,” kataku, lalu mengacungkan jari kelingking sehingga kelingking kami pun saling bertautan sebagai tanda kami sudah menjadi teman atau sahabat, dan aku pun lega.
Tiba-tiba kudengar suara dering hand phoneku, ternyata ada satu pesan di hand phoneku. Sebuah pesan yang membuat jantungku berdegub kencang, sebuah pesan yang membuat mulutku berucap ” Terimakasih Tuhan”, sebuah pesan yang bertuliskan ” Sudah lama kurindukan peri kecil itu, peri kecil dengan senyum dan tawanya yang mampu menenangkan sebuah jiwa. Dan jiwa ini pun akhirnya memberanikan diri berucap, peri kecil maukah kamu menjadi peri kecilku lagi?” sebuah pesan yang di kirim oleh mahkota bunga yang aku impikan yaitu Dika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar